Kamis, 22 Juli 2010

Pride of Sumatera yang fenomenal


Merah itu mempesona. Merah itu simbol keberanian, keberuntungan, dan kemakmuran. Itulah keyakinan sementara orang terhadap warna merah pada aglaonema. Warna merah fenomenal itu muncul pertama kali pada 1983. Itulah aglaonema berdaun merah pertama di Indonesia, juga di dunia.

Di antara jenis aglaonema lain yang berdaun hijau pada umumnya, kehadirannya tampak mencolok dan menarik perhatian. Wajar jika kehadirannya langsung mencuri hati penggemar tanaman hias.

1. Pride of Sumatera yang fenomenal

Lahirnya pride of sumatera menandakan babak baru dalam dunia aglaonema hibrida. Istilah aglaonema hibrida untuk membedakan dengan aglaonema spesies yang jumlahnya mencapai 30 jenis. Pride of sumatera sebetulnya bukan aglaonema hibrida pertama yang dilahirkan dari persilangan. Pada periode 1980-an, yang banyak dihasilkan adalah yang tipe
daun hijau. Misalnya ada ciput, sanola, aloet, dan golden fantasi. Dari Thailand ada sitiporn. Sosok pride yang khas, merah kehijauan dengan punggung merah tua menyebabkan popularitas pride of sumatera langsung meroket. Ia melebihi donna carmen yang juga dihasilkan oleh Greg Hambali.Kehadirannya pada 1985 sangat menggemparkan, sehingga jejaknya kemudian diikuti penyilang Thailand. Maka lahirlah butterfly, lady valentine, dud
unyamanee, dan red bangkok. Semua berdaun merah mengekor pride of sumatera. Seperti terselip di balik namanya, aglaonema berdaun merah menyala itu menjadi kebanggaan, bukan cuma Sumatera, tetapi juga bagi Indonesia.

Pewaris warna merah adalah induk jantan Aglaonema rotundum. Greg Hambali memperolehnya
dari Aryono, eksportir tanaman hias di Jakarta. Rotundum yang asli Sumatera bagian utara seperti Bukitlawang dan Aceh berdaun hijau tua. Warna merah darah hanya di permukaan bawah daun. Spesies yang sama sebetulnya ada di tangan penangkar Thailand sejak
1980. Nurseri Aditya milik Aryono—rutin mengirimkan Aglaonema rotundum ke Bangkok.
Tak lama berselang Greg juga mendapat 2 Aglaonema commutatum setinggi 20 cm dari Fajar Martha. Fajar pada 1983 dikenal sebagi penyilang lili. Ia membeli beberapa biji A commutatum dari Dowseeds di Singapura. Produsen benih itu mengumpulkan biji sri rejeki dari Mindanao dan Luzon—keduanya di Filipina selatan. Aglaonema commutatum sebetulnya juga terdapat di Palu, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

Sayang, tangkai Aglaonema commutatum domestik terlampau panjang dan corak daun samar-samar menghilang. Merah muda yang semula menghiasi tangkai memudar. Kemolekan Aglaonema commutatum milik kita terkikis. Sudah begitu anakannya berkurang. Ini bukan fitnah! Jeleknya performa itu akibat pergaulan bebas dengan Aglaonema simplex yang berdaun hijau polos dan enggan beranak. Lalat menjadi mak comblang perkawinan mereka. Padahal bunga aglaonema harum karena mengandung amil asetat.

Nasib Aglaonema commutatum di Filipina lebih baik karena populasi A simplex tak begitu dominan. Mereka masih mampu menjaga diri untuk tidak terlampau intim sehingga pergaulan bebas pun terhindari. Setelah kedua indukan Aglaonema rotundum dan A. commutatum—di tangan, ahli Botani itu menjodohkan mereka. “Kalau disilang mestinya hasilnya bagus,” kata pria kelahiran Sukabumi 19 Februari 1949 sebelum melakukan persilangan. Greg terdorong untuk menyilangkan lantaran tanaman hias itu disenangi orang karena “tahan
banting”.

Ia tahan di ruangan berpendingin, cahaya redup, dan kelembapan rendah. Ketimbang dieffenbachia, misalnya, yang sama-sama anggota famili Araceae, aglaonema jauh lebih unggul. Getah dieffenbachia gatal dan anakannya tak sebanyak aglaonema.
Populasi anakan jelas menentukan harga jual. Selain itu dieffenbachia bukan asli Indonesia,
tetapi imigran asal Amerika selatan. Padahal untuk persilangan, dibutuhkan indukan dalam jumlah banyak. Karena dieffenbachia dari negeri seberang maka relatif sulit untuk memperolehnya. dalam jumlah masal.

Pada penghujung 1982 mulailah Gregori menyilangkan Aglaonema rotundum dan Aglaonema commutatum. Masing-masing sebagai induk jantan dan betina. Inilah pengalaman pertamanya dalam menyilang aglaonema. Greg sebelumnya lebih intens menjadi penghulu caladium dan alocasia yang masih sekerabat dengan aglaonema. Mereka bertiga sama-sama anggota famili talas-talasan alias Araceae. Hasil silangan antara Aglaonema rotundum dan Aglaonema commutatum, diberi nama precusor. Sosoknya menarik, sayang masih warna hijau. Karena itulah Greg kemudian menyialang balik dengan 2 induk berbeda. Pertama, kembali dijodohkan dengan sang ayah, Aglaonema rotundum dan menghasilkan tanaman berdaun merah menyala. Dialah pride of sumatera yang langsung mencuat dan menjadi ikon aglaonema lain sampai sekarang.

Lalu, Greg juga mendaulat Aglaonema brevispathum untuk menjadi induk jantan. Persilangan ini menghasilkan donna carmen yang tak kalah sohor. Jadi, boleh dibilang antara pride of sumatera dan dona carmen masih sepupuan. Dona carmen lalu dititipkan pada nurseri Robby & Kerst di Bogor pada 1988.


2 komentar:

  1. Pride of Sumatera diklaim sebagai aglaonema hybrida pertama yang berwarna merah, diluncurkan sekitar tahun 1985 oleh penghulu aglaonema ternama dari Indonesia, beliau adalah Bapak Greg Hambali.

    BalasHapus
  2. Warna merah dari aglaonema Pride of Sumatera diturunkan oleh Aglaonema species Rotundum yang berasal dari Aceh (Sumatera).

    Printer Info

    BalasHapus